Raspberry Pi vs. Arduino untuk Membuat Proyek IoT

Di kalangan pecinta elektronik D-I-Y (Do-It-Yourself), Raspberry Pi dan Arduino sudah menjadi papan pengembangan yang populer. Salah satu keunggulannya karena harga yang relatif murah dan mudah digunakan. Kapan saat yang tepat untuk menggunakan salah satu papan pengembangan tersebut? Apa saja perbedaannya?

Arduino

Arduino memiliki beberapa tipe papan di antaranya Uno, Micro, Nano, dan Lilypad. Di antara semuanya, yang paling mudah digunakan oleh pemula adalah Arduino Uno. Arduino Uno menggunakan chip ATmega328p yang diproduksi oleh Atmel Corp. Chip ini digolongkan sebagai microcontroller karena hanya dapat diprogram untuk menjalankan 1 aplikasi saja — flash memory hanya 32KB dan tidak ada sistem operasi yang terpasang, sehingga kode yang kita tulis benar-benar akan berjalan langsung di atas silikon. Istilah kerennya “bare metal programming”.

Bahasa pemrograman yang dapat dipakai untuk memprogram Arduino Uno yaitu C dan C++. Beberapa perangkat lunak untuk mengembangkan aplikasi di atas platform Arduino:

  1. Arduino IDE. Ini adalah text editor resmi yang dikeluarkan oleh Arduino, mudah digunakan untuk pemula tetapi memiliki banyak keterbatasan jika ingin digunakan untuk mengembangkan aplikasi serius.
  2. Platform IO. IDE (Integrated Development Environment) untuk pengembangan aplikasi yang sangat serius. Tidak hanya untuk mengembangkan aplikasi di atas Arduino, tapi juga untuk mengembangkan aplikasi di atas chip lain seperti ARM.
  3. Atmel Studio. Perangkat lunak yang dikeluarkan oleh Atmel, pembuat chip ATmega. Mereka menyebutnya dengan IDP (Integrated Development Platform). Memiliki fitur development dan debugging yang sangat lengkap. Cocok dipakai jika hendak mengembangkan aplikasi serius dan untuk skala produksi massal.

Raspberry Pi

Berbeda dengan Arduino, Raspberry Pi lebih tepat disebut sebagai mini-computer. Ditenagai oleh prosesor ARM Cortex dan memori hingga 1 GB (untuk versi terbaru, Raspberry Pi 3) dan beberapa port output seperti HDMI, USB, Ethernet, built-in WiFi, dan GPIO yang berlimpah, membuat Raspberry Pi menjadi idola di dunia elektronik D-I-Y.

Raspberry Pi dapat dijalankan dengan menggunakan sistem operasi Linux maupun Windows 10 IoT Core. Saat ini, yang paling umum digunakan yaitu Linux Raspbian.

Bahasa pemrograman yang dapat digunakan untuk mengembangkan aplikasi pada Raspberry Pi sangat beragam.

  1. C dan C++. Bahasa pemrograman yang sangat efisien untuk mengembangkan aplikasi dengan memory footprint yang kecil.
  2. Python. Biasa digunakan oleh para makers untuk mengembangkan aplikasi di Raspberry Pi.
  3. JavaScript menggunakan Node.js. Jika sudah biasa menggunakan teknologi web, maka ini adalah bahasa pemrograman yang tepat untuk mengembangkan aplikasi di atas Raspberry Pi.
  4. C# dan F#. Jika sistem operasi yang digunakan adalah Windows 10 IoT Core, maka bahasa pemrograman yang paling tepat digunakan adalah C# atau F# jika ingin menggunakan paradigma functional programming.

Mana yang cocok digunakan?

Di Indonesia harga pasaran Arduino Uno (yang asli) berkisar di angka Rp150.000-Rp250.000 dan Raspberry Pi 3 (versi terbaru) berkisar di angka Rp600.000-Rp800.000. Perbedaan yang cukup signifikan.

Arduino Uno cocok digunakan jika:

  1. Anda tergolong masih pemula di dunia elektronik D-I-Y dan IoT.
  2. Proyek yang hendak dibuat tergolong sederhana, misal menyalakan AC rumah jika suhu di ruangan sudah terlalu panas.
  3. Proyek robotika sederhana, misal robot line follower atau robot yang mendeteksi objek dengan sensor jarak.

Sedangkan Raspberry Pi cocok digunakan jika:

  1. Ingin mempelajari embedded Linux (Linux OS yang berjalan di perangkat dengan spesifikasi minimal).
  2. Membutuhkan tenaga komputasi yang lebih besar.
  3. Butuh integrasi antara perangkat keras seperti sensor dan aktuator dengan perangkat lunak yang menggunakan komputasi kompleks, misal untuk proyek robotika yang digabungkan dengan computer vision.
  4. Membutuhkan koneksi dengan Internet, langsung out of the box, Raspberry Pi 3 sudah memiliki chip WiFi bawaan.

Source: Framework.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *